Sabtu, 16 Maret 2013

Maret 2013 : Ranah Minang nan Elok (1)



Perjalanan Mata Kamera pada minggu ke dua bulan Maret ini mengunjungi Ramah Minang. Beberapa obyek wisata sempat dikunjungi seperti Lembah Anai, Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minang , Desa Pandai Sikek, Danau Singkarak, Jam Gadang, Lembah Harau, Istana Pagar Ruyung, Ngarai Sianok, Danau Maninjau dan sempat juga membidik beberapa gerakan penari pada pertunjukan tarian kebudayaan Minangkabau. Perjalanan dilakukan selama 3 hari 2 malam, cukup melelahkan memang tetapi terobati dengan hasil tangkapan Mata Kamera yang lumayan hasilnya.

Lembah Anai :
Lembah Anai adalah obyek wisata air terjun yang terletak di pinggir jalan raya utama antara Padang dengan Bukit Tinggi. Karena letaknya di kawasan cagar alam, maka bukit-bukit sekitar lembah anai tersebut alamnya terjaga dengan baik. Kesejukan di kawasan Lembah Anai tersebut sangat menyegarkan apalagi bila berada di sekitar air terjun Lembah Anai. Keunikan air terjun ini terutama karena letaknya di pinggir jalan raya dan juga karena letaknya di persimpangan antara jalan raya dan rel kereta api bergigi yang melintasi jalan raya tersebut. Keunikan lainnya yaitu apabila air terjun debitnya besar, maka airnya bisa meluap ke jalan raya sehingga bisa memacetkan jalan raya Lintas Sumatera.

Beruntung Mata Kamera dapat mengambil beberapa foto air terjun dan air yang mengalir diantara bebatuan dengan speed lambat sehingga dapat mengabadikan kelambutan air terjun dan air yang mengalir diantara bebatuan. Perlu perjuangan sedikit untuk bisa memperoleh foto tersebut karena harus rela berbasah-basah dengan celana panjang (jenis jean lagi) dan tertatih tatih diantara bebatuan yang licin.


Sedikit Tips : kalau memang niat mampu mendapatkan spot air terjun yang bagus, maka persiapkan dengan baik antara lain :
-                     Persiapkan peralatan untuk bisa memotret dengan speed lambat dan aperture sempit, seperti tripod dan Filter ND.
-                     Persiapkan pakaian yang cocok untuk dipake ditempat yang berair, termasuk alas kaki yang tidak licin (bila kondisinya aman, lebih baik tidak beralas kaki).
-                     Persiapkan penutup lensa dan kain lap karena kamera dan lensa pasti akan terkena percikan air.
-                     Persiapkan waktu agar tidak tergesa-gesa pada saat melakukan pemotretan sehingga bisa melakukan survey dengan baik untuk menentukan angle yang paling bagus.

Foto-foto yang saya tampilkan ini adalah contoh pengambilan foto yang kurang persiapan, sehingga hasilnya kurang memuaskan yang dikarenakan saat melakukan pemotretan terganggu dengan kekhawatiran karena pakaian basah (padahal akhirnya basah juga karena terpeleset) dan kondisi pijakan yang tidak stabil (licin) dan diperparah dengan alas kaki yang kurang pas sehingga mengakibatkan tidak bisa berkonsentrasi dengan baik pada saat pemotretan.

Pada saat perjalanan balik dari Bukittinggi ke Padang, Mata Kamera sempat melirik jembatan kereta api lama yang melintas jalan raya. Sopir bis menghentikan sejenak laju bis dan memberi kesempatan Mata Kamera untuk membidik 2 jembatan sbb :
 

Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minang (PDKIM)
PDKIM adalah salah satu museum di Sumatera Barat yang terletak di Kelurahan Silaing Bawah, Kecamatan Padang Panjang Barat, Kota Padang Panjang. Museum ini berisikan berbagai macam informasi dan koleksi mengenai kebudayaan Minangkabau baik berupa dokumentasi audio maupun visual. Museum ini dapat diakses dari jalur utama Padang – Bukittinggi , berjarak sekitar lebih kurang dua kilometer dari pusat Kota Padang Panjang. (Wikipedia).

Mata Kamera tertarik dengan arsitektur bangunan yang bercorak rumah adat Minangkabau (Rumah Gadang), selain bentuknya yang unik juga ornamen ukiran yang setiap detailnya mengandung makna.

Perburuan di Rumah gadang dimulai dengan memotret bentuk Rumah Gadang secara utuh dari kejauhan dan bagian-bagian (sudut) rumah gadang dari berbagai sisi. Pengambilan foto-foto tersebut kami pikir adalah sudut pengambilan foto yang sdh banyak dilakukan orang jadi pasti sudah foto sejuta umat..

Mata Kamera ingin mendapatkan foto unik dengan mencoba melihat dari berbagai sudut terhadap Rumah Gadang tersebut, akhirnya dapat juga ketika melihat kolam ikan kecil di depan Rumah Gadang tersebut. Dari sudut tersebut Mata kamera melihat adanya refleksi dari Rumah Gadang dan adanya ranting pohon didepan Mata Kamera yang dapat dimanfaatkan sebagai framing. Tidak perlu berpikir lama kemudian kami persiapkan tripod dan setting exposure untuk mendapatkan foto yang dapat mengekspose keindahan Rumah Gadang, refleksi Rumah Gadang di kolam dan keindahan langit yang saat itu cukup bagus (langit biru berawan). Namun sayangnya ada sedikit gangguan yaitu air yang tidak tenang karena adanya gerakan ikan di kolam tersebut.

Seusai pemotretan dari sisi kolam, Mata Kamera melanjutkan perburuan ke belakang Rumah Gadang dan kedalam Rumah Gadang. Di belakang Rumah Gadang utama terdapat Rumah Gadang juga yang terhubung dengan Rumah Gadang utama, akan tetapi Rumah Gadang ini nampaknya lebih tua umurnya dari Rumah Gadang utama dan dindingnya pun terbuat dari anyaman bambu. Mata Kamera tertarik mengambil foto Rumah Gadang ini, karena dindingnya yang unik juga adanya landscape yang bagus di halamannya.

Suasana dari dalam Rumah Gadang juga tidak kalah menarik, dari jendela bisa melihat landscape di luar rumah gadang yang tertata rapi dan adanya background pegunungan. Di dalam Rumah Gadang juga terdapat banyak tiang yang berjajar rapi membentuk pola yang menarik, disamping juga adanya foto-foto dan pernik-pernik khas minangkabau.



Danau Singkarak

Melengkapi keindahan tanah Minang yang terkenal memiliki keindahan alam pegunungan, tanah Minang juga dianugerahi beberapa danau dengan air yang jernih yag salah satunya dikenal dengan nama Danau Singkarak. Danau Singkarak dengan air yang jernih dan tenang memiliki daya tarik tersendiri, apalagi pada saat Mata Kamera tiba sekitar pukul 10.30 WIB air danau begitu tenang dan langit berwarna biru dengan hiasan kumpulan awan putih... sungguh menjadikan tidak sabar untuk segera membidik segala penjuru keindahan danau tersebut..

Setelah mendapatkan beberapa foto dari pinggiran danau, Mata Kamera tertarik untuk bisa melihat sisi lain dari danau dengan memanfaatkan boat.  


Karena perjalanan dengan boat hanya berkeliling di danau dan tidak berhenti di suatu tempat maka Mata Kamera tidak mendapatkan bidikan yang menarik. Namun demikian sesampai di daratan Mata Kamera tidak mau tinggal diam mencari sasaran menarik di ’pantai’ karena banyak wisatawan lokal yang mengisi waktu libur di tepi danau.

Istano Pagar Ruyung 

Istano Pagarruyung terletak di Nagari Pagarruyung Kecamatan Tanjung Emas, sekitar 5 km dari Kota Batusangkar. Istano Pagarruyung merupakan replika dari bangunan Istano Rajo Alam Pagarruyung yang dibakar oleh Belanda pada tahun 1804 dan dibangun kembali pada tahun 1976. Namun pada tanggal 27 Februari 2007 Istano Pagarruyung tersebut mengalami kebakaran dan saat ini masih dalam proses pembangunan kembali (belum diresmikan).




Bangunan Istano Pagarruyung berbentuk rumah adat minang atau sering disebut dengan Rumah Gadang yaitu rumah yang berukuran besar dengan atap khas berbentuk tanduk kerbau yang melengkung ke atas. 



 

Pada saat berkunjung ke Istano Pagarruyung ini sekitar pukul 12.40 WIB terjadi fenomena alam yang belum pernah Mata Kamera lihat sebelumnya yaitu matahari tertutup awan tipis membentuk lingkaran yang pinggirnya dihiasi warna warni pelangi ... subahanaallah... di saat tengah hari para wisatawan sedang mengagumi keindahan Istano Pagarruyung, Allah subhanahu wata'ala juga memperlihatkan kebesaranNya seolah mengingatkan bahwa ciptaan manusia itu tidak sebanding dengan keindahan dan kebesaran Allah subahanahu wata'ala... Allahu Akbar... Allahu Akbar.. Allahu Akbar wa lillahil hamdu...


 Dalam perjalanan setelah mengunjungi Istano Pagarruyung, Mata Kamera sempat mendapatkan foto prasasti Adityawarman. Prasasti Adityawarman adalah salah satu peninggalan bersejarah yang dimiliki oleh masyarakat Minangkabau. Cagar budaya tersebut terletak di pinggir jalan lintas Batusangkar-Sumatera Barat; yang tidak begitu jauh dari Istana Pagaruyung.

Lembah Harau

Lembah Harau adalah adalah sebuah ngarai dekat kota Payakumbuh di Kabupaten Limapuluh Koto , propinsi Sumatera Barat . Lembah Harau diapit dua bukit cadas terjal dengan ketinggian mencapai 150 meter. Lembah Harau .dilingkungi batu pasir yang terjal berwarna-warni, dengan ketinggian 100 sampai 500 meter. Topografi Cagar Alam Harau adalah berbukit-bukit dan bergelombang. Tinggi dari permukaan laut adalah 500 sampai 850 meter, bukit tersebut antara lain adalah Bukit Air Putih, Bukit Jambu, Bukit Singkarak dan Bukit Tarantang (Wikipedia).



Sungguh sangat disayangkan beberapa menit Mata Kamera tiba di lembah Harau turun hujan lebat, sehingga keindahan lembah Harau tidak banyak yang bisa dibidik oleh Mata Kamera... Sepertinya suatu saat nanti harus ada kunjungan ulang ke lembah ini dan syukur syukur bisa menikmati kesegaran air terjun lembah Harau ini.

Bersambung ... Ranah Minang (2)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar